Halaman

Kamis, 01 Februari 2018

Ingatan dalam Senja



by: Kristian Adhi Kurniawan

Menatap senja nan berhias asa
Kemilau jingga menembus raga
Angin pantai berbisik padaku
Menghantar suatu ingatan tentangmu

Terbayang dirimu pada masa itu
Di sela formalitas berdinamika
Tawa dan tingkah lakumu itu
Sungguh mewarnai hari-hariku

Perlahan tapi pasti
Sederhana tapi mengena
Kau berhasil membuat diriku mengagumimu
Kehangatan sifatmu bagai mentari senja
Terpancar hangat menerpa kalbu

Sabtu, 27 Agustus 2016

Cinta Sejati

       Bicara tentang cinta tentu banyak macamnya. Ada cinta pada keluarga, cinta sepasang kekasih, kasih antar teman / sahabat, dll. Semuanya memang terlihat indah, tetapi bukanlah cinta sejati. Ada yang mengasihi sesama teman dengan motif memanfaatkan kebaikannya untuk kepentingan diri sendiri. Tapi ketika temannya itu sedang dalam kesusahan, apakah dia mau peduli dan menolongnya? Atau seakrab-akrabnya suatu persahabatan, bisa saja seiring berjalannya waktu mereka mulai jarang berinteraksi. Entah karena kesibukan masing-masing / problem tertentu.

Sedangkan di dalam keluarga walau ada hubungan darah dan saling mengasihi, terkadang orang tua dan saudara mengecewakan kita. Dalam hal percintaan antar kekasih, ada orang yang merasa bahwa ia memiliki pasangan 'sempurna' yang sesuai kriteria & ekspektasinya. Tapi yang namanya manusia pasti ada juga kelemahannya, tidak ada yang sempurna. Secocok apapun pasti pernah cekcok. Banyak kejadian dari tahun ke tahun, terutama di kalangan selebritis tanah air.. perceraian & pertengkaran pasangan sering terjadi.



      Maka dari itu, timbul suatu pertanyaan: "Apakah cinta sejati itu ada?" Ternyata ada. Mungkin Anda belum mengetahuinya. Cinta sejati hanya ada dalam Tuhan Yesus Kristus. "Karena begitu besar kasih  Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan  Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya  kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yohanes 3:16

     Yesus adalah Juru Selamat. Ia rela disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Betapa besar kasih & pengorbananNya itu. Tuhan Yesus juga mau menerima kita apa adanya. Senajis apapun.. sebanyak apapun dosa kita, Ia tetap mengampuni. Maka dari itu, mari bertobat dengan kesungguhan hati dan percaya bahwa Yesus itu satu-satunya Jalan Keselamatan menuju hidup kekal.

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Yohanes 14:6

Minggu, 14 Agustus 2016

Perbedaan Game FPS dan TPS


Agan-agan yang gamers pasti tau banget dong kalo secara garis besar ada dua sub-genre game action shooter. Apa aja tuh? FPS (First Person Shooter) & TPS (Third Person Shooter). Perbedaan paling mendasar dari dua jenis game ini yaitu perspektif / sudut pandang dari player. FPS pake sudut pandang orang pertama, kalo TPS pake sudut pandang orang ketiga (Ngomongin sudut pandang, ane jadi inget nih pelajaran BI yang ngebahas sudut pandang dalam cerita.:v ) Biasanya gamers cenderung suka salah satu aja antara FPS atau TPS, tergantung selera & gaming style gan. Kalo ane pribadi lebih suka game TPS gan.. apalagi yang open world, karena lebih bebas melakukan hal lain di luar misi.

Secara tampilan gameplay pada umumnya, di game FPS cuma kelihatan senjata, equipment & tangan char yang kita mainkan [kadang ada juga yang kelihatan kakinya kalo menggerakkan mouse ke bawah]. Nah, kalo di game TPS itu seluruh badan char kelihatan & area yang terlihat lebih luas termasuk sebagian area di belakang char. Dua hal itu yang menyebabkan sensasi ngegame-nya berbeda pula. FPS lebih afdol untuk akurasi tembakan yang jitu, sedangkan di TPS kita bisa menyaksikan aksi & pergerakan char secara utuh. Tapi ada juga lho gan.. game FPS yang sedikit ada unsur TPS, misal saat naik tank / kendaraan lain bisa kelihatan dari perspektif orang ke-3. Sebaliknya ada game TPS yang ada fitur FPS-nya, misalnya waktu pake sniper / mounted gun.
Ini ilustrasi sudut pandang / perspektifnya gan:

"Number-person views" by Gamingforfun365 - Paint.net. Licensed under CC BY-SA 3.0 via Wikimedia Commons - https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Number-person_views.png#/media/File:Number-person_views.png

Dari segi realisme / kenyataan, FPS lebih realistis daripada TPS. Kenapa? Karena game FPS pake sudut pandang mata gamers, seolah-olah kita menjadi character utama yang berada dalam game. Apalagi kalo maen-nya pake Virtual Reality, lebih terasa tuh sensasi real-nya. Sedangkan game TPS kurang realistis karena kita terkesan memainkan char di belakang layar & posisi kamera mengikuti char dari belakang (kalo game 3D). Kadang malah serasa jadi kameramen yang selalu mengikuti pergerakan char kemanapun dia pergi, hehehe.

Contoh game FPS: Metro 2033 Redux

Contoh game TPS: Saints Row IV

Lanjut ke shooting accuracy (ketepatan menembak). Dalam game FPS tentu lebih akurat saat menembak. Seolah-olah player yang memegang & menembakkan senjata api. Kalo game TPS kurang akurat nembaknya gan. Walau crosshairs bisa zoom in, masih lebih akurat cara menembak ala FPS. Hal itu karena perspektif player bukanlah perspektif character yang dimainkan.

Ada perbedaan juga saat melompat. Dalam First Person Shooter, lebih susah memperkirakan jarak saat melompat, misalnya melewati jurang. Sedangkan di game Third Person Shooter bisa melompat lebih mudah karena gamers dapat memperkirakan jarak dengan lebih efektif.

Sebenarnya masih ada banyak perbedaan game FPS dan TPS. Ini tabel perbandingan secara ringkas dari www.ebay.com (What Are the Differences Between First-Person Shooter and Third-Person Shooter Games?) :

Gaming Aspect

First-Person Shooter Game

Third-Person Shooter Game

Realism
Most realistic
Player is removed from the in-game character
Shooting accuracy
More accurate
Tends to be less accurate
Ease of aiming
Easier to aim
Can be more difficult to sight
Controls
Complex and challenging
Simpler
Field of vision
Narrow
Wide
Cover mechanics
Lacking
Well developed
Awareness of character and environment
Can be problematic as the view is obscured
Wider view improves awareness
Camera angles
Difficult to judge distance when jumping
Can be problematic when taking cover or moving close to objects
Overcome by the development of intelligent camera systems


Senin, 08 Agustus 2016

Pengalaman Baru di Kampus Ungu


Dulu aku sering menceritakan pengalaman saat sekolah di blog ini. Nah, karena sekarang sudah kuliah, aku akan share pengalaman di dunia perkuliahan. Saat ini aku sedang menjalani tahun kedua kuliah di jurusan Teknik Informatika. Berarti tahun pertama sudah terlewati dan masa transisi dari SMA ke kuliah berakhir sudah. Sudah jadi kakak tingkat nih buat yang angkatan 2015, hehehe. Well, jadi teringat gimana awalnya jadi maba tahun 2014 & dapat pengalaman baru di kampus ungu, yaitu Unika Soegijapranata, Semarang.


======================================================================================
Flashback semester pertama kuliah...
Pagi itu Technical Meeting PTMB 2014 dimulai. Acara ini mengundang banyak tanya & penasaran dalam pikiranku. Seperti apa acara PTMB? Kenapa harus dilaksanakan selama berhari-hari? dst..
Saat itu theme song PTMB 2014 terinspirasi dari lagu Terbang karya Vierra.

Jujur aja dulu aku cukup shock saat mengikuti PTMB 2014 (Pembekalan Terpadu Mahasiswa Baru) dan menjalani kuliah semester 1. Kenapa? Karena ternyata lingkungan sosial & pergaulan di dunia kuliah lebih beragam dan lebih acak dibanding ketika dulu sekolah. Persentase anak kost juga meningkat saat kuliah ini, di kelasku bisa dibilang perbandingannya hampir 50:50 dengan anak rumahan. Bahkan waktu aku bergabung di salah satu UKM, banyak teman yang anak kost.

Suasana di antara maba masih canggung & banyak yang saling berdiam diri, sangat terlihat saat PTMB fakultas. Itu wajar karena rata-rata belum saling kenal, boleh dikatakan sebagai "syndrom" anak baru.. kecuali bagi yang dulunya teman satu sekolah. Seiring berjalannya waktu, bulan demi bulan, semester demi semester, barulah terlihat mana mahasiswa yang memang pendiam dan mahasiswa yang banyak bicara.
=======================================================================================

Ternyata di jurusan tempatku belajar, jadwal kuliahnya cukup santai jika dibandingkan Arsitek & Psikologi misalnya. Rata-rata dalam 1 semester cuma 1 mata kuliah per hari (cuma pas semester 1-2)
Untuk anak rumahan sepertiku, ada beberapa keuntungan kalau jadwal kuliahnya santai:
+ Tentu bisa pulang lebih awal, dengan catatan bahwa jam kuliahnya mulai pagi hari. Kalau masuk siang ya tetap pulang sore, wkwkwkwk...
+ Hemat uang jajan, bisa makan siang di rumah kalau tidak kuliah sampai sore. 
+ Ada waktu luang lebih banyak di luar kegiatan kuliah.

Bersama teman-teman seangkatan




























Berbeda dengan mayoritas jurusan IT di kampus-kampus lain yang menggunakan Windows, jurusan IT di Unika Soegijapranata bisa dibilang antimainstream, karena menggunakan Linux untuk pembelajaran. Ada dosenku yang mengungkapkan bahwa jurusan kami merupakan satu-satunya jurusan Teknik Informatika berbasis Linux di Jawa Tengah.

Saat awal-awal kuliah, pengalamanku cukup berlainan dengan semasa sekolah dulu. Mulai dari hal akademis sampai non akademis. Contohnya: belajar di kelas besar berisi 70-80 mahasiswa it's something 'wow' for me in the beginning. Wajar saja.. karena hanya ada sedikit dosen tetap di jurusan kami, maka angkatan kami tak bisa dibagi jadi beberapa kelas ; Mempertahankan IPK yang bagus di semester awal bagiku mudah, tapi makin sulit seiring berjalannya semester karena tingkat kesulitan makul yang bertambah ; Bergabung dalam kegiatan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), sejenis ekskul kalo di dunia sekolah.

Dalam hal non akademis, misalnya organisasi... aku sempat mengikuti 2 UKM. Apa saja itu? UKM Paraga (jurnalistik) & UKM Mirror (fotografi). UKM yang paling lama aku ikuti adalah Paraga, selama 1 tahun kurang beberapa bulan, dari 2 tahun masa jabatan. Sedangkan UKM fotografi cuma ikut 2 kali pertemuan saja dan setelah itu berhenti, karena memang bukan minatku disitu. Aku juga sempat ikut audisi UKM vokal grup bernama Gratia Voice, tapi tak lolos audisi. Gak apa-apa, lumayan buat pengalaman.


Sebenarnya aku ikut UKM jurnalistik karena dulu saat psikotes SMA, salah satu saran dunia kerjaku selain programmer yaitu jurnalis. Maka aku coba mengembangkan diri disitu. Saat wawancara perekrutan, aku memilih menjadi divisi editor dan akhirnya diterima di divisi tersebut. Di UKM ini entah kenapa sebagian besar temanku berasal dari fakultas soshum (Psikologi, FEB (Ekonomi & Bisnis), Komunikasi)). Sedangkan anggota yang dari fakultas saintek hanya 2 orang, yaitu aku dari jurusan teknik informatika & satunya lagi jurusan arsitek.  Aku masih ingat saat minggu-minggu awal bergabung di UKM Paraga, ada seorang cewek yang aku sukai.

Jadi begini awalnya gan, sore itu aku ikut rapat UKM jurnalis di kampus. Intinya membahas tentang RKT alias Rencana Kegiatan Tahunan. Nah, kebetulan pas itu aku duduk di samping seorang cewek. Awalnya aku biasa aja duduk di samping dia. Tapi lama-kelamaan aku mulai naksir dia. Wajahnya memang cuma sedikit cantik menurutku, tapi yang bikin aku terpesona sama dia itu cara ngomongnya yang centil & keaktifan dia saat mengungkapkan ide. Sering dia ngomong sambil menggerakkan tangannya pertanda memperjelas pembicaraan waktu berpendapat, dan saking semangatnya sampai beberapa kali tanpa sengaja tangannya dia kena lenganku. Walau gitu doang kejadiannya, aku tetap kaget dan jantungku berdebar-debar. Apalagi kalo dengar dia pas ngomong aja rasanya aku langsung nyess adem gimana gitu. Sempat jarak duduk antara aku dan dia sangat dekat, bikin jantungku makin berdegup kencang. Padahal sebelumnya dia dan aku duduknya agak jauh.

Januari 2015.. kampusku mengadakan kegiatan pengembangan diri yang wajib diikuti mfahasiswa baru, yaitu ATGW (Arising The Grateful Winner). Karena banyaknya mahasiswa, maka dibagi menjadi banyak gelombang sampai Februari. Aku termasuk gelombang 4, tepatnya di kelas 4C. Saat pembukaan ATGW, kami diperkenalkan dengan para Co-Trainer yaitu kakak tingkat. Setelah ice breaking kami diarahkan menuju kelas masing-masing. Sekitar setengah jam kemudian, di dalam kelas kami masih dibagi lagi menjadi beberapa kelompok. Nah.. kelompok kecil inilah yang melakukan berbagai tugas yang diberikan selama acara ATGW berlangsung, termasuk Action Plan sampai bulan Agustus. Kami dilatih untuk menetapkan & mengisi target mingguan yang bersifat individu. Follow up tiap kelompok juga diadakan untuk evaluasi target, pengisian target lain & rencana action plan. 

Sekarang aku akan share tentang kelompok ATGW dimana aku bergabung. Kami berasal dari 5 fakultas yang berbeda: 3 mahasiswa FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), 2 mahasiswa Ilmu Komputer, 1 mahasiswa Psikologi, 1 mahasiswa Teknologi Pertanian, dan 1 mahasiswa FAD (Fakultas Arsitektur dan Desain). Total ada 8 orang di kelompok yang diberi nama "Captain America" ini. Kami dibimbing oleh seorang kakak co-trainer dari jurusan Elektro. Singkat cerita, suka duka ATGW kami jalani bersama sejak bulan Januari-Agustus 2015. Hingga akhirnya kelompok kami dengan beberapa kelompok lain melakukan action plan mengecat ulang tempat parkir kampus.
Let's do it !

Dalam ATGW inilah mahasiswa-mahasiswi dari berbagai fakultas dan jurusan dipertemukan, saling berinteraksi & bekerjasama. Banyak yang menemukan teman-teman baru disini. Sebelumnya kami mungkin kurang peduli dengan anak fakultas lain, karena biasanya hanya mau akrab dengan teman dari jurusan dan fakultas sama. Hal tersebut diilustrasikan dalam video ini:




Begitulah pengalaman kuliahku selama 2 tahun ini di Unika Soegijapranata. Ini ceritaku, apa ceritamu? :)

Sabtu, 12 September 2015

Pengalaman Menggunakan Kartu Tri


Ada bermacam-macam operator seluler di Indonesia, salah satunya adalah 3 (Tri/Three).



Testimoni ini diambil dari komentar ane di Kaskus, harap maklum gan.. di posting blog ini bahasanya jadi ala Kaskus.

Ane pake 3 masih seumur jagung, kira-kira hampir 2 tahun ini gan. Overall ane puas & gak mau berpindah ke lain operator. 

Paket sms & internetnya murah. Speed inet sebanding sama harganya, kalo orang jawa bilang: "Ana rega, ana rupa." Di daerah ane pake kuota kendo pas download di steam rata-rata 400-600'an KB/s, maksimal sampe 800'an KB/s (sayangnya kagak bertahan lama di max speed). Trus habis jam 6 pagi otomatis lanjut download pake kendo netmax, speed rata-rata juga 400-600'an KB/s walau rada menurun. 

Kalo soal sinyal, Tri di daerah tempat tinggal ane sinyalnya kuat. Sinyal internet juga bagus: sering H, kadang bisa H+. Tapi waktu di kampus ane (masih di kota yang sama, Semarang), entah kenapa kurang bagus sinyal internetnya (sering E). Alternatifnya pake wifi kampus deh.

Nmr 3 ini pernah beberapa kali ane bawa ke luar kota, di antaranya: Jogjakarta (Sleman & Gunung Kidul), Bali, Kebumen, Salatiga, Wonosobo. Di hampir semua daerah yang ane sebutin itu sinyal 3-nya oke walau beda-beda kestabilan 'n kekuatan sinyalnya. Cuma di Gunung Kidul dan Kebumen (khususnya daerah Gombong) gak ada sinyal, mungkin karena di pelosok desa jadinya blm terjangkau sama Three.

Selasa, 11 Agustus 2015

Konversi Huruf Besar dan Huruf Kecil - Bahasa C

Program dalam bahasa C ini untuk mengubah huruf besar menjadi huruf kecil & huruf kecil menjadi huruf besar. Ada algoritma & contoh outputnya juga gan di bawah source code.

===========================================================

#include<stdio.h>

void abc(char *a)
{
    int i;
    for(i=0;i<15;i++)
   {
        if(a[i]>=65&&a[i]<=90)
       {
                a[i]=a[i]+32;
       }
        else if(a[i]>=97&&a[i]<=122)
       {
                 a[i]=a[i]-32;
       }
   }
}

int main()
{
         char a[15];
         printf("Konversi huruf kecil ke huruf besar dan sebaliknya\nInput 1 kata: ");
         scanf("%s",a);
         abc(a);
         printf("Hasil: %s\n",a);
      return 0;
}

============================================================

Algoritma:
main
  1. User memasukkan sebuah kata, max 15 character
  2. Memanggil function abc(a)
  3. Mencetak string setelah huruf besar dan huruf kecilnya dikonversi

function abc
  1. Function ini menunjuk char a[15] di int main (char *a)
  2. Melakukan loop sebanyak 15 kali dengan variable i
  3. Value 'A' dalam ASCII yaitu 65, sedangkan value 'a' yaitu 97. Jadi selisihnya 32 (97-65). Jadi untuk konversi huruf besar ke huruf kecil, perlu menambahkan 32 ASCII value di tiap char (a[i]=a[i]+32). Sedangkan konversi huruf kecil ke huruf besar perlu mengurangi 32 ASCII value (a[i]=a[i]-32).
    Lower case character = Upper case character + 32
    Upper case character = Lower case character – 32
  4. Maka dari itu, jika nilai ASCII char yang di-input>=65 dan <=90, maka tambahkan 32 nilai ASCII sehingga berubah menjadi Lower case. Sedangkan jika nilai ASCII char>=97 dan <=122, maka maka kurangi 32 nilai ASCII sehingga berubah menjadi Upper case. 

OUTPUT




Minggu, 12 Juli 2015

Suka Duka Menjadi Anak IPA

Sebenernya ane pengen share tentang suka duka mahasiswa Teknik Informatika, tapi apa daya.. ane baru mulai kuliah di tahun 2014 kemarin #maba. Sekarang baru akan menempuh semester 3. Jadi boleh dibilang kalo ane belum makan asam garamnya menjadi anak IT, wkwkwk.. Belum ada apa-apanya deh dibanding agan & aganwati yang sedang bertempur menghadapi final boss yang bernama Skripsi.

Ya sudahlah, ane mau bahas aja tentang suka duka jadi anak IPA. Ini berdasarkan pengalaman bersama temen-temen ane selama 2 tahun menghuni jurusan IPA di SMA (sekalian nostalgia, hahahaha). So, bagi kalian yang tertarik masuk IPA di SMA, post ini bisa menggambarkan gimana sih suka duka yang dialami anak IPA.
  1. Serasa jadi ilmuwan waktu praktikum. Praktek IPA seringnya di laboratorium. Entah pas praktek fisika, kimia, biologi, hukumnya wajib pake jas lab. Kadang juga harus pake sarung tangan 'n masker. Kita serasa jadi ilmuwan yang melakukan banyak eksperimen. Tabung reaksi, gelas ukur, mikroskop, kaca preparat, NaOH & asam sulfat itu cuma beberapa di antara sekian banyak alat & bahan praktikumnya anak IPA.
Ujian praktek biologi


Praktek kimia


      2. Praktek, laporan, praktek, laporan, dan begitu seterusnya.
Nah, ini yang agak ngeselin. Apalagi kalo lagi musim praktikum (enakan juga musim duren kan :v), anak IPA harus bikin banyak laporan sekaligus 'n biasanya deadline pengumpulan laporannya berdekatan. Bagaimanapun itu emang udah kewajiban kita yang belajar di jurusan IPA. Puncaknya pas ujian praktek IPA menjelang kelulusan, waktu itu di sekolah ane harus mengerjakan 6 praktikum sekaligus dalam sehari (Fisika 2, Kimia 2, Biologi 2). Kalo anak IPS mah nyantai, mapel IPS gak ada ujian prakteknya waktu itu. 

Setelah bikin laporan ini itu, beberapa hari kemudian semua laporan dikumpulkan. Lega rasanya euy setelah selesai ujian praktek IPA. Tinggal belajar deh untuk Try Out & UN.


      3. Dapet anggapan yang lebih dibanding jurusan lain.
Umumnya anak IPA dianggap lebih logis, pintar & berkompetensi dibanding anak IPS / Bahasa. Anggapan tersebut datang dari banyak kalangan: guru, orangtua, teman sekolah, dsb. Padahal nyatanya cuma sebagian anak IPA yang gitu, ada juga yang kurang pintar 'n kurang logis. 
Tiap jurusan bagus asalkan sesuai MINAT & KEMAMPUAN.


      4.  Selama 2 tahun "bersahabat" dengan Trigonometri
Matematika-nya IPA lebih ke trigonometri gan. Ini tergolong salah satu bab matematika yang horor. Trigonometri juga ada di sebagian besar mapel fisika. Gak sekedar pythagoras & menghitung nilai sin cos tan pake sisi depan samping miring. Banyak rumus trigonometri yang sulit dihafalkan & dimengerti, untungnya bisa pake jembatan keledai. Dulu guru mat ane pas kelas XI nyuruh bikin lagu dari rumus-rumus itu, ngerjainnya per kelompok. Unik kan? Tujuannya biar rumus-rumus trigonometri gampang diingat.




Sekian pembahasan ane tentang suka duka anak IPA. Barangkali ada yang mau nambahin di komentar.

Kamis, 09 Juli 2015

Lirik Lagu PTMB 2014 Unika Soegijapranata

Menjelang tahun ajaran baru nih sob, banyak maba akan mulai kuliah. Ini juga masa puncak tes masuk berbagai perguruan tinggi. Sebelum memasuki dunia perkuliahan, tentu para mahasiswa baru harus mengikuti orientasi & pembekalan dari pihak kampus terlebih dulu. Peralihan dari masa sekolah ke masa kuliah pun dimulai.

Sebelum ke lirik lagu PTMB 2014, mau sedikit share. Setahun yang lalu aku menjadi mahasiswa baru Teknik Informatika di Unika Soegijapranata, Semarang. Masih fresh-fresh'nya lulus dari SMA waktu itu, hehehe. Nah, inilah lagu yang menjadi theme song PTMB 2014 Unika Soegijapranata, terinspirasi dari lagu karya Vierra berjudul Terbang.

Bangun di pagi hari
Ku sambut sang mentari
Bersiap untuk ikut PTMB

Menyusuri jalanan
Menuju kampus Unika
Bersama teman-temanku yang baru

Dan aku sampai di kampus ungu
Dan PTMB dimulai

Reff:
Bila harus ku berlari
Bila harus ku terjatuh
Untuk mengejar mimpiku
Ku tak akan menyerah

Disinilah ku berdiri
Disinilah ku belajar
Bersama teman semua
Karena ku bisa dan ku akan terbang


Ada gerakannya juga lho, check this out:

Jumat, 05 Juni 2015

Maen Game FPS Tanpa Map

Ada map di game First Person Shooter? Itu sangat membantu dalam hal navigasi. Tapi ada beberapa game FPS yang emang gak ada fitur map-nya. Hmm... kalo tersesat dan tak tau arah jalan pulang gimana tuh? :v
Sejauh ini ada 2 game FPS tanpa map yang pernah aku mainkan, yaitu Red Faction 2 & Turok.

Awalnya mungkin emang rada bingung kalo kita terbiasa maen game FPS ada map-nya, eh tiba-tiba maen yang gak ada map. Emang sih, ada beberapa petunjuk semacam semacam tanda panah, tapi ada saatnya gak ada petunjuk seperti itu. Namun disinilah kemampuan navigasi seorang gamers diuji lebih lagi, apalagi jika ada misi yang tempatnya luas dan cuma ada sedikit pembatas alam atau buatan.

Contohnya saat bermain Turok, seringkali setting game-nya berada di hutan yang luas. Kadang mau jalan kemana juga bingung, karena jarang petunjuk arah muncul & gak ada peta. Ada saatnya aku harus muter-muter gak karuan untuk mencari jalan yang benar kemana, supaya misi cepat selesai.

Turok

Sabtu, 28 Februari 2015

Judul Karya Tulis - Skripsi Jurusan Analis Kesehatan

Untuk Anda mahasiswa Analis Kesehatan, berikut ini kumpulan judul karya tulis & skripsinya:

1.    Perbandingan Kadar Hemoglobin dengan Metode Autoanalyzer dan Metode STAT - Site MHgb
2.        Perbedaan Kadar Hemoglobin Sampel Darah Vena dan Kapiler pada Ibu Hamil dengan Metode Sahli dan Sianmethemoglobin
3.        Pengaruh Pemberian Tablet Fe Terhadap Kadar Hemoglobin Ibu Hamil
4.        Perbedaan Kadar Hemoglobin Menggunakan Sampel Darah Vena dan Darah Kapiler
5.        Perbedaan Kadar Hemoglobin pada Pemakai Konsentrasi IUD Sebelum dan Sesudah Menstruasi
6.        Perbedaan Kadar Hemoglobin pada Sampel Darah Segar dengan Darah Tunda
7.        Perbedaan Nilai Laju Endap Darah (LED) Metode Westergren dengan Menggunakan Na Citrat 3,8 % dan dengan NaCl Fisiologis
8.        Perbandingan Hasil Pemeriksaan Laju Endap Darah Menggunakan Metode Westergren dan Metode Humacel
9.        Perbedaan Hasil Laju Endap Darah pada Suhu Kamar ( 29OC ) dan Ruang Berpendingin ( 25OC)
10.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Laju Endap Darah Metode Westergent dengan Metode Sediplast pada Pasien Anemia dan Hb Normal
11.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Laju Endap Darah dengan Sampel Darah EDTA Segera Diperiksa dan Waktu Tunda 6 Jam, 12 Jam, dalam Lemari Pendingin
12.    Perbedaan Jumlah Eritrosit dan Laju Endap Darah Metode Sedimat Menggunakan Natrium Sitrat 3,8 % dan EDTA Serbuk
13.    Perbandingan Hasil Pemeriksaan Laju Endap Darah Menggunakan Metode Westergren dan Metode Electa Lab
14.    Hasil Pemeriksaan Hematokrit pada Sampel Darah EDTA yang Disimpan Berdasarkan Waktu Pemeriksaan
15.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Jumlah Eosinofil Metode Direk dengan Metode Indirek
16.    Perbandingan Jumlah Eosinofil Absolut dan Preparat Darah Tepi pada Penderita Asma
17.    Hubungan Antara Proteinuri dan Penyakit Hipertensi pada Wanita Hamil Trimester III
18.    Perbandingan Kadar Kolesterol dari Sampel Serum dan Plasma  EDTA 10 % yang Dikerjakan Segera dan Ditunda Selama 6 Jam
19.    Hubungan Profil Lipid dengan Obesitas pada Usia 6 - 17 Tahun
20.    Hubungan Antara Pemeriksaan Kolesterol LDL Metode Direk dan Indirek dengan Indek Massa Tubuh
21.    Perbedaan Kadar Trigliserida Antara Reagen Kering dan Reagen Basah
22.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Kadar Kreatinin dari Sampel Serum dan Plasma
23.    Hubungan Pemeriksaan Kadar Creatinin dari Sampel Serum pada Penderita Penyakit Ginjal
24.    Hubungan Kebiasaan Cuci Tangan dgn Kecacingan Siswa
25.    Prevalensi  Oxyuris  Vermikularis  pada  Anak  SD
26.    Pengaruh Pemberian Pentoksifilina Terhadap Motilitas Spermatozoa Setelah Dilakukan Pencucian dengan Teknik Renang Atas
27.    Perbandingan Kualitas Preparat dengan Metode Lisis dan Metode Langsung dalam Pembacaan Mycobacterium Leprae
28.    Membandingkan Kualitas Sputum Secara Makroskopis dan Mikroskopis Untuk Mendeteksi Basil Tahan Asam (BTA) Positip pada Sputum Sewaktu
29.    Faktor yg Berhubungan dgn Populasi Kuman di Udara Bangsal Bayi Resiko Tinggi (BBRT)  dan Intensive Care Unit (ICU)
30.    Hubungan antara Kandidiasis Vaginalis dengan Keasaman pada Vagina
31.    Hubungan Hygienitas Vagina dengan Prevalensi Neisseria Gonorrhoeae Secara Mikroskopis pada PSK
32.    Pemantauan Efektifitas Obat Anti Tuberkulosis Berdasarkan Pemeriksaan Sputum pada Penderita Tuberkulosis Paru
33.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sputum SPS dengan Sputum SSS pada Suspect Penderita TB
34.    Perbedaan Skala IUATLD pada Pemeriksaan BTA Sputum Pagi dengan Pewarnaan Ziehl Neelsen Segera dan Tunda
35.    Perbedaan Hasil Pembuatan Preparat  BTA Menggunakan Lidi dan Ose  pada Sputum Penderita Tuberculosis Paru
36.    Perbedaan Pemeriksaan Mikroskopis BTA pada Sputum Pagi dengan dan Tanpa Konsentrasi Tersangka Tuberkulosis Paru
37.    Waktu Pertumbuhan Basil M.  Tuberculosis pd Medium Lowenstein Jensen dan Hubungannya dengan Hasil Pemeriksaan Mikroskopis Sputum BTA
38.    Perbandingan Hasil Mikroskopik Gram pada Pasien Konjungtivitis dan Ulkus Kornea
39.    Uji Kwalitas Reagen Ziehl Neelsen Terhadap Basil Tahan Asam Tuberkulosis
40.    Perbandingan Jumlah BTA pada Sputum Segar dan Tunda Selama 24 Jam Sampai 72 Jam Dalam Suhu Kamar
41.    Perbedaan MPN Coliform pada Air Bersih yang Disimpan dalam Suhu Dingin Selama 24 Jam - 48 Jam
42.    Perbedaan Jumlah Kuman Basil Tahan Asam pada Sputum Sebelum dan Sesudah Penyimpanan pada Suhu Kamar Selama 24 jam
43.    Perbandingan Hasil Pemeriksaan Basil Tahan Asam Cara Konsentrasi dan Langsung pada Metode Ziehl Neelsen
44.    Pengaruh Waktu dan Suhu pada ASI terhadap Total Mikroba
45.    Pengaruh Lama Penyimpanan Media Carry and Blair pada Temperatur Kamar Terhadap Pertumbuhan Bakteri Vibrio Cholerae
46.    Identifikasi Basil Tahan Asam Methode Ziehl Neelsen Dibandingkan dengan Metode Kudoh dalam Menegakkan Diagnosis Tuberkulosis
47.    Pemeriksaan Escherichia coli pd Jamu Gendong (Pegal Linu) dan Jamu Cair Botol (Pegal Linu) yg Dijual di Pasar
48.    Pengaruh Penyimpanan Preparat BTA Positif Terhadap Mycobacterium Tubercolosa dengan Pewarnaan Ziehl Neelsen dan Kinyown Gabbett
49.    Perbedaan Hasil Ureum Dan Kreatinin Menggunakan Sampel Serum Dan Plasma EDTA Sebelum Dan Sesudah Hemodialisa
50.    Perbandingan Hasil Pemeriksaan Hemoglobin, Leukosit, Dan Trombosit Menggunakan Hematology Analyzer Diatron Arcus Pro Dan Sysmex Kx 21
51.    Perbandingan Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu Pada Penderita Diabetes Mellitus dengan Metode GOD – PAP dan Strip
52.    Faktor Yang Berhubungan Dengan Pencemaran Bakteri Escherichia Coli Pada Air Minum Isi Ulang Di Depot Air Minum (DAM)
53.    Perbedaan Kadar Glukosa Darah Pada Sampel Segera Diperiksa Dengan Sampel Tunda 12 Jam Penambahan NaF
54.    Pengaruh Waktu  Penyimpanan Darah EDTA Dalam Suhu Kamar  Terhadap Nilai Absolut Hitung Jenis Lekosit Dan Morfologi Lekosit
55.    Hubungan Hasil Pemeriksaan BTA Dengan Jumlah Leukosit Pada Sputum (Studi Kasus Pada Penderita Suspek TB)
56.    Perbedaan Hasil Pemeriksaan Index Eritrosit Dengan Sampel Darah EDTA Segera Diperiksa, Tunda 5 Jam Dan 12 Jam Pada Suhu Kamar
57.    Hubungan Jumlah Lekosit Dan Laju Endap Darah Pada Penderita Kusta / BTA Positif
58.  Hubungan Jumlah Trombosit Cara Otomatik Dengan Pemeriksaan Dengue
59.    Igg Dan Igm Onchoprobe Pada Penderita DHF
60.    Perbedaan Jumlah Eritrosit, Lekosit dan Trombosit Pada Sampel Darah Kapiler dan Darah Vena
61.    Perbedaan  Titer Salmonella Typhi-O  Dan  Typhi- H  Menggunakan  Plasma  Dan  Serum  Pada  Anak
62.    Perbedaan Nilai Indek Eritrosit Pada Penderita Thalasemia Pra dan Pasca Transfusi Darah
63.    Perbedaan kadar Hemoglobin pada PRC dan WE
64.    Perbandingan Uji Diagnostik Pemeriksaan Imunochromatographic Tuberculosis (ICT-TB) Antigen dengan Pemeriksaan BTA Sputum Pada Penderita Tersangka TB Paru
65.    Perbandingan Volume Darah EDTA Terhadap Pemeriksaan Indek  Eritrosit Pada Penderita Thalasemia
66.    Perbedaan Nilai Indek Eritrosit Pada Pemakai IUD Sebelum Dan Sesudah Menstruasi
67.    Pengaruh Penyimpanan Darah EDTA Terhadap Jumlah  dan Morfologi Sel
68.    Perbedaan Kadar Hemoglobin Pada Fresh Whole Blood dan Simpan Hari Ke Tujuh  Suhu 1 Oc - 6oc